# Kritik Basa-Basi

Bahasanya tetap kritis memang, namun ia lebih sibuk mengatur tubuh seseorang yang mengkritik kekuasaan. Dulu, dia pernah bilang kalau pikiran tidak memerlukan sopan-santun. Barangkali sekiranya, "pikiran tidak memerlukan sopan-santun, kecuali kepada teman saya".

Kalau dulu ia sering mengelak agar tak kena delik, kini ia berputar-putar agar tetap meyakinkan pendengarnya kalau ia bukan bagian dari kekuasaan. Sayangnya, bahasanya tetap jujur, sehingga semakin ia berbicara bau mulutnya terus tercium.

Kasar bicaranya bukan lagi diarahkan ke atas, namun kesamping, seolah suara memiliki massa yang berat dan menghantam mereka-mereka yang tak punya kuasa. Tidak ada yang tahu apa yang diterimanya, tapi yang pasti Napoleon paham betul kalau kekuasaan memang memabukkan.

Kita bisa adu bicara dengannya sampai fajar, namun tak ada yang bakal menang, sebab ia kini datang dengan motif yang tak lagi otentik.

Kalau memang hendak mencari aman, mengapa tidak sedari awal mendaftar saja sebagai bagian dari kekuasaan. Jelas lebih mudah. Agar kita semua bisa melihat bedanya mana yang fisuf sungguhan dan mana yang sofis.
