<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title><![CDATA[Esainya Nauval]]></title><description><![CDATA["We're trapped in the belly of this horrible machine. And the machine is bleeding to death."]]></description><link>https://esai.nauv.al</link><generator>RSS for Node</generator><lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2026 07:59:20 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://esai.nauv.al/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><language><![CDATA[en]]></language><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Kritik Basa-Basi]]></title><description><![CDATA[Bahasanya tetap kritis memang, namun ia lebih sibuk mengatur tubuh seseorang yang mengkritik kekuasaan. Dulu, dia pernah bilang kalau pikiran tidak memerlukan sopan-santun. Barangkali sekiranya, "piki]]></description><link>https://esai.nauv.al/kritik-basa-basi</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/kritik-basa-basi</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Fri, 03 Jul 2026 04:11:44 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Bahasanya tetap kritis memang, namun ia lebih sibuk mengatur tubuh seseorang yang mengkritik kekuasaan. Dulu, dia pernah bilang kalau pikiran tidak memerlukan sopan-santun. Barangkali sekiranya, "pikiran tidak memerlukan sopan-santun, kecuali kepada teman saya".</p>
<p>Kalau dulu ia sering mengelak agar tak kena delik, kini ia berputar-putar agar tetap meyakinkan pendengarnya kalau ia bukan bagian dari kekuasaan. Sayangnya, bahasanya tetap jujur, sehingga semakin ia berbicara bau mulutnya terus tercium.</p>
<p>Kasar bicaranya bukan lagi diarahkan ke atas, namun kesamping, seolah suara memiliki massa yang berat dan menghantam mereka-mereka yang tak punya kuasa. Tidak ada yang tahu apa yang diterimanya, tapi yang pasti Napoleon paham betul kalau kekuasaan memang memabukkan.</p>
<p>Kita bisa adu bicara dengannya sampai fajar, namun tak ada yang bakal menang, sebab ia kini datang dengan motif yang tak lagi otentik.</p>
<p>Kalau memang hendak mencari aman, mengapa tidak sedari awal mendaftar saja sebagai bagian dari kekuasaan. Jelas lebih mudah. Agar kita semua bisa melihat bedanya mana yang fisuf sungguhan dan mana yang sofis.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Biarkan Telanjang]]></title><description><![CDATA[Kita hidup dalam ketidakjelasan moral. Kadangkala mengaku dari timur, selebihnya mengaku dari barat. Namun, satu yang sangat jelas, kebanyakan dari mereka memang senang menindas. Serepih apapun kesempatan, mereka akan menindas, mungkin di kantor, di ...]]></description><link>https://esai.nauv.al/biarkan-telanjang</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/biarkan-telanjang</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Wed, 30 Oct 2024 18:54:22 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Kita hidup dalam ketidakjelasan moral. Kadangkala mengaku dari timur, selebihnya mengaku dari barat. Namun, satu yang sangat jelas, kebanyakan dari mereka memang senang menindas. Serepih apapun kesempatan, mereka akan menindas, mungkin di kantor, di kampus, atau bahkan pada anak SMP yang masih puber.</p>
<p>Perempuan yang sering menjadi korban. Mereka tak mampu mengadu pada negara, sebab akan dianggap kurang baik. Mereka tak mampu mengadu pada Tuhan, sebab kesaksiannya dianggap hanya separuh. Mereka tak mampu mengadu pada tetangga, sebab pakaiannya dianggap tak cukup sopan.</p>
<p>Kata “sopan” selalu menjadi kata yang paling berengsek yang sering diungkapkan untuk mengatur tubuh perempuan. Dalam satu sisi, menghina laki-laki seolah laki-laki tak memiliki cukup akal untuk berhenti. Pada sisi yang lain, seolah perempuan adalah submanusia yang tak mampu mengatur tubuhnya sendiri.</p>
<p>Pakaian sopan adalah bahasa teknis, mengaturnya berarti harus menentukan standarnya. Selama ini kita hidup dengan moral kompas yang rusak, seolah sopan adalah mutlak, padahal hanya bangunan imajinasi saja. Sopan santun seringkali menjadi negasi baru untuk mengatasi akal yang tersumbat.</p>
<p>Tak jarang perumpamaan “binatang liar” yang <em>absurd</em> dikemukakan. Katanya, “singa mana yang tidak nafsu diberi daging?”. Perumpamaan ini begitu bangsat, sebab seolah laki-laki hidup berdasarkan insting. Pun merupakan perumpaan yang tolol, sebab bila ada hewan liar mengancam warga, tangkap hewan tersebut, bukan malah mengurung warga. Bahkan untuk berpikir salah saja mereka salah.</p>
<p>Pun sering terjadi, alih-alih menangkap pelaku, fokusnya dialihkan pada pakaian korban. Seolah para berengsek ini memiliki semacam batas ambang apakah suatu peristiwa layak dianggap pelecehan atau tidak berdasarkan pakaiannya. Mereka seringkali beramai-ramai membuat “<em>pleidoi</em>” untuk memenuhi berahi religiositasnya. Seolah yang dilakukan oleh pelaku semacam <em>azab</em> atas pakaian sang korban.</p>
<p>Mereka hanya menyembah tafsir, namun berlagak menjadi Tuhan. Seolah, diasumsikan, semua orang menyembah tafsir yang sama. Seolah kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Seolah murkanya adalah murka Tuhan. Kebenaran tak pernah mutlak, memaksakan kebenaran sendiri pada orang lain itu tidak benar.</p>
<p>Bila saja Firdaus masih hidup hari ini, entah berapa banyak laki-laki yang hendak ditikamnya. Tak terbayang juga berapa banyak para laki-laki yang hendak meneriakkan “sjw” pada tubuhnya, tentu, dengan nada yang peyoratif. Bahkan mereka tak sudi mendengar kisahnya, sebab selayaknya perempuan memang harus patuh.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Menyembah Tafsir]]></title><description><![CDATA[Sempitnya jalan pikiran membuat Tuhan tampak egois. Bukan sebab mabuk agama, faktanya memang segitu saja. Untuk menjadi mabuk, perlu konsumsi; serepih tak membuat pengar. Mabuk menjadi mewah dan jerkah. Para "progresif" mulai mengumpat, padahal sama ...]]></description><link>https://esai.nauv.al/menyembah-tafsir</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/menyembah-tafsir</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Wed, 05 Jun 2024 05:00:00 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Sempitnya jalan pikiran membuat Tuhan tampak egois. Bukan sebab mabuk agama, faktanya memang segitu saja. Untuk menjadi mabuk, perlu konsumsi; serepih tak membuat pengar. Mabuk menjadi mewah dan jerkah. Para "progresif" mulai mengumpat, padahal sama saja. Biji-biji fasis mulai tersemai.</p>
<p>Bila ada suatu ambang, mereka tak yakin lolos. Ambangnya ditolak, seraya bilang, "ini demi akhirat!". Kamerad mulai bersorak-sorai, "ini adalah jalan Tuhan!". Siapa berani melarang, ia melawan Tuhan. Sial, tak ada interupsi. Mereka semua mulai berbuah.</p>
<p>Siapa yang pandai menunjuk, jadi ahlinya. Apa saja yang menetes dari bibirnya, sudah pasti benar. Apa saja dibahasnya, dari yang gaib hingga yang melampaui akal pikirnya. <em>Ad verecundiam</em> hanyalah basa-basi, setuju saja, tidak perlu banyak tanya. "Ini bukan dogma!", katanya. "Kami ingin mendapat berkah", sambungnya.</p>
<p>Sebagian dari mereka saling mengusir, sebab masalah tafsir. Yang "salah" ialah yang jumlahnya sedikit, tentu, yang banyak punya kuasa. Sebagian mereka menjadi minoritas dalam mayoritas. Seolah tak boleh bicara, sebab "sesat", katanya. "Tafsir yang benar" selalu menjadi frasa yang lucu.</p>
<p>Beberapa yang paling berisik dilepas izinnya dengan alasan mengganggu. Tentu saja, mengganggu yang berkuasa. Tak ada yang berani protes soal "mengganggu". Para "progresif" mulai berdansa. Mereka terlalu pandir untuk membaca bahwa besok adalah giliran mereka.</p>
<p>Bila cuaca sedang panas, mereka bersilih menjadi wakil Tuhan. Semua orang menunduk, siapa saja yang melirik akan dihardik. Dengan seragam lengkap serentak berseru, "kami membela agama!". Sungguh ajaib, sang pemberi hukum belum tentu marah, sang hamba sudah pasti menghukum.</p>
<p><em>Tak ada hierarki dalam lingkungan, semua berhak hidup.</em></p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tidak Semua Mampu Kuliah]]></title><description><![CDATA[Aku ingat betul saat masih kelas satu sekolah dasar, aku adalah siswa yang sering dimarahi oleh guru. Bukan tanpa sebab, aku dimarahi karena tulisanku yang begitu buruk, bahkan seringkali aku sendiri tak bisa membacanya kembali.
Teman-temanku yang la...]]></description><link>https://esai.nauv.al/tidak-semua-mampu-kuliah</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/tidak-semua-mampu-kuliah</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Thu, 23 Mar 2023 06:34:15 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingat betul saat masih kelas satu sekolah dasar, aku adalah siswa yang sering dimarahi oleh guru. Bukan tanpa sebab, aku dimarahi karena tulisanku yang begitu buruk, bahkan seringkali aku sendiri tak bisa membacanya kembali.</p>
<p>Teman-temanku yang lain tidak seperti itu, mereka normal-normal saja, mampu menulis dengan begitu rapi. Aku duduk bersebelahan dengan murid yang paling pintar di kelasku, ini yang membuat situasinya lebih parah, seolah-olah Bu guru melihat si bodoh dan si pintar secara kontras.</p>
<p>Bukan hanya soal tulisan yang buruk, seringkali pada pelajaran lain pun aku lamban untuk mencerna materi pelajaran.</p>
<p>Saat itu aku sudah naik kelas 4 SD dan kami sedang belajar matematika, seperti biasa Bu guru menjelaskan materi dan setelahnya memberi soal untuk latihan. Teman di sebelahku sudah mulai mengerjakannya, sedangkan aku masih bertanya pada temanku tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan tersebut, aku tak bertanya pada guru karena sudah pasti aku akan diumpat.</p>
<p>Kendati seperti itu, aku tak pernah menangis atau bahkan berkecil hati hanya karena dimarahi atau dibentak oleh guru, aku hanya bercerita pada ibuku sepulang sekolah. Ibuku tak pernah memarahiku hanya karena tulisanku buruk atau karena cara belajarku yang acapkali lamban. Ibuku hanya bilang, "Nggak apa-apa, gurumu aja yang nggak ngerti tulisanmu itu. Nanti juga tulisanmu jadi lebih bagus.".</p>
<p>Tulisan tanganku sampai saat ini begitu buruk, namun mendengar perkataan ibuku saat masih kecil sangat membuatku tenang. Aku tahu tulisan tanganku buruk, tapi aku berusaha untuk membuatnya menjadi lebih baik, kendati hasilnya tetaplah buruk.</p>
<p>Situasi belajar seperti itu menjadi lumrah bagiku. Saat aku sekolah menengah pun begitu, entah itu sedang belajar matematika, kimia, fisika, atau bahasa Indonesia. Sikap guru yang tidak ramah membuatku lebih sering bertanya pada teman sebangku ketimbang pada guru.</p>
<p>Sistem belajar di sekolah tentu saja terstruktur, seperti mulai dari pukul 7 pagi, berakhir pada pukul 13 siang. Begitu juga dengan setiap mata pelajaran, setiap guru harus berbagi waktu mengajar dengan guru-guru yang lain.</p>
<p>Tentu saja tidak akan menjadi masalah bagi siswa yang dapat memahami setiap pelajaran dengan cepat, mereka dapat memahami setiap materi pelajaran dalam 60 menit, dan 30 menit sisanya digunakan untuk mengerjakan soal latihan.</p>
<p>Bagiku, waktu tersebut sangat pendek, mungkin paling cepat aku butuh waktu 91 menit untuk memahami materi yang diajarkan guru. Waktu tersebut hanya untuk memahami, belum lagi aku perlu mengerjakan soal-soal latihan. Ya, aku masih perlu banyak waktu!</p>
<p>Sialnya, jam belajar sudah selesai, padahal aku saja belum memahami mata pelajaran yang diajarkan. Semua jawaban atas soal yang diberikan pun harus dikumpulkan, sedangkan kertasku masih kosong. <em>Ah</em>, aku harus menyalahkan siapa?</p>
<p>Saat itu aku tak pernah sadar jika cara belajarku lamban, yang aku pahami aku tidak sepintar teman-temanku yang lain. Bagiku saat sekolah, bukan hanya belajar, aku juga harus memaksa otak agar dapat mengejar waktu dan itu tidak pernah berhasil.</p>
<p>Hampir semua nilai mata pelajaran umumku pas-pasan, sisanya remedial. Bagusnya, nilai pelajaran komputerku tinggi semua. Aku ingat nilai mata pelajaran pemrograman <em>web</em>-ku sampai 96, dan untuk mata pelajaran komputer lainnya rata-rata di atas 85.</p>
<p>Aku tunjukkan nilai-nilai tersebut pada kakakku, dan dia bilang, "Kalo begitu, fokus belajar mata pelajaran komputer aja, yang lain biar remedial.". Setelah itu aku lebih percaya diri, seolah aku tahu tujuanku belajar dan aku tidak perlu merasa terbebani saat nilai-nilai pelajaran umumku remedial.</p>
<p>Sudah dapat ditebak hasil berikutnya, nilai pejalaran umumku semakin buruk dan nilai mata pelajaran komputerku semakin konsisten dan cenderung ada peningkatan. Bahkan saat aku sekolah menengah dulu, aku sangat jarang pergi keluar rumah, aku habiskan waktuku, setelah pulang sekolah, di rumah untuk berada di depan komputer.</p>
<p>Aku ingat betul belajar bahasa pemrograman PHP dari kertas fotokopian yang diberikan oleh kakak sepupuku yang sedang kuliah. Komputerku hanya memiliki 1 GB RAM dan 80 GB HDD, layarnya pun kecil hanya 14", tapi aku mempelajari banyak hal dengan komputer itu.</p>
<p>Hal yang aku rasakan saat belajar secara mandiri di rumah adalah kebebasan. Aku tak pernah merasa ditekan oleh guru atau siapapun. Tak ada yang mengumpatku saat aku keliru memahami pelajaran. Tak ada batas waktu yang membuatku merasa terlambat dalam belajar. Aku yang masih berumur 13 tahun pun begitu merasakan kenikmatan dalam belajar. Aku pun pernah menangis saat program PHP pertamaku berjalan dan memunculkan data dari <em>database</em>!</p>
<p>Saat aku belajar secara mandiri, aku bebas mencari materiku sendiri. Aku dapat mencarinya dari <em>blog</em> ke <em>blog</em>, dari satu kertas fotokopian ke kertas yang lain, dari buku ke buku. Saat itu, sumber belajar <em>online</em> hanya aku dapat temukan di <em>blog</em>. Masih sangat terbatas sumber belajar berupa video, khususnya yang berbahasa Indonesia, pun belum populer hal semacam <em>bootcamp</em>.</p>
<p>Kebiasaan belajar secara mandiri berlangsung hingga tulisan ini aku buat. Kecepatan teknologi yang begitu masif semakin mendukung cara belajarku. Mungkin dulu aku cukup terbatas dalam sumber daya belajar, namun minat belajarnya tetap ada. Sekarang, sumber daya belajar tak terbatas, dan minat belajarnya tak pernah mati!</p>
<p>Sangat berbeda jauh cara belajarku dengan apa yang sekolah terapkan. Kondisi seperti ini yang menambah <em>capek</em> buatku. Sebab setiap pagi hingga siang aku harus pura-pura belajar, dan siang hingga malam aku harus belajar dalam arti sebenarnya. Namun, karena umurku yang masih begitu muda, jadi aku sangat menikmatinya dan malah aku jarang sekali jatuh sakit.</p>
<p>Aku tak pernah menyalahkan cara belajar di sekolah, aku hanya jengkel pada orang yang memaksaku untuk memahami atau bahkan menguasai sesuatu yang memang aku tidak minati. Pun aku jengkel pada orang-orang yang memaksaku harus tetap patuh pada satu metode belajar yang sama sekali tidak sesuai dengan kemampuanku.</p>
<p>Tentu saja saat itu aku tak pernah paham soal-soal semacam ini, bahkan aku tak pernah menyadari bahwa cara belajarku lamban, yang aku pahami adalah aku tidak sepintar temanku yang lain dan cenderung membuatku minder.</p>
<p>Seharusnya orang-orang yang lebih tua di sekolah yang memiliki kesadaran ini, merekalah yang bertanggungjawab atas masa depanku, seharusnya mereka paham untuk menempatkanku pada tempat yang semestinya.</p>
<p>Saat masa sekolah menengahku telah usai, aku merasa gembira. Hal pertama yang aku sadari adalah aku <em>capek</em> sekolah, bukan <em>capek</em> belajar. Aku tidak pernah merasa <em>capek</em> saat belajar, apalagi belajar hal yang aku sangat minati.</p>
<p>Aku hanya <em>capek</em> harus mengikuti sistem belajar yang formal. Sialnya, kakakku memaksakku untuk mengambil kuliah setelah aku lulus sekolah menengah. Dia memiliki keyakinan bahwa bila tidak memiliki ijazah kuliah maka akan sulit mendapat kerja. Ironinya, aku sudah bekerja saat itu menjadi staf IT di suatu Yayasan pendidikan di kotaku.</p>
<p>Tentu saja aku pernah mencoba menolak, namun dengan argumenku yang menurutnya tidak valid, pun aku tidak memiliki keberanian penuh untuk membantah, aku ikuti saja kemauan dia pada akhirnya. Dia bilang bahwa aku tidak perlu serius-serius kuliahnya, sebab aku hanya butuh ijazahnya saja.</p>
<p>Aku percaya keputusannya adalah bentuk rasa sayang dan rasa kekhawatiran untuk masa depanku, walaupun dalam hatiku yang paling dalam itu merupakan sebuah bentuk <em>10 dosa besar</em>.</p>
<p>Sungguh, sudah dapat diprediksi masa-masa kuliahku seperti apa. Jadwal kuliahku dari hari senin hingga sabtu, namun aku hanya masuk 2 atau 3 hari saja. Bagiku kuliah membuang waktu, di kampus aku hanya basa-basi belajar dengan dosen yang rata-rata tidak kompeten, sedangkan dengan durasi waktu yang sama aku bisa meningkatkan kemampuanku dengan belajar hal-hal yang lebih aku minati.</p>
<p>Kurikulum kampus yang begitu kadaluarsa, diisi oleh dosen-dosen pengabdi, dikelola oleh pengurus konservatif; begitulah rumus <a target="_blank" href="https://esai.nauv.al/ketidakadilan-kampus">kampus yang tidak adil</a>. Di ruang kelas seringkali hanya terdapat transaksi ilmu pengetahuan, tidak dengan suasana belajar.</p>
<p>Aku tak pernah benci kuliah atau bahkan anti kuliah. Jika aku seperti itu, tentu akan kubakar seluruh kampus yang ada di dunia satu per satu. Masalahnya tetap sama, seperti saat aku sekolah, bedanya aku sudah tumbuh lebih dewasa. Tubuhku lebih tinggi sehingga aku dapat melihat seluruh variabel ketidakadilan.</p>
<p>Bukan hanya pada diriku, juga seluruh teman kampusku yang lain. Pada mereka yang serius hendak mengubah jalan hidupnya. Pada mereka yang menyisihkan sisa tenaganya. Pada mereka yang rela memangkas gaji untuk diberikan pada manusia-manusia tidak bertanggunjawab. Sungguh, dulu aku pernah berpikir untuk mengadukan mereka pada Tuhan! <em>Brengsek!</em></p>
<p>Bagiku kuliah hanya sebatas hal teknis, tentu hakikatnya adalah pendidikan. Pendidikan dapat diperoleh di luar kampus. Bila sekolah, kuliah dan pendidikan formal lainnya adalah wajib, bagaimana dengan orang yang tidak mampu sepertiku?</p>
<p>Bagiku mampu bukan sekadar persoalan finansial, tapi kemampuan memahami metode belajar yang diterapkan, kemampuan mengejar, kemampuan mengimbangi apa yang dimaksud oleh pengajar.</p>
<p>Mungkin saja aku dapat mengusahakan bagian finansial agar dapat pergi ke sekolah atau kuliah yang lebih baik, tapi apakah cara belajarku akan menjadi cocok? Tentu, sama saja. Aku akan tetap memaksa otak agar terus mengejar dan memahami setiap pelajaran yang diberikan.</p>
<p>Sedangakan dengan durasi waktu yang sama, aku dapat belajar dengan metode yang lebih cocok denganku. Bukankah itu menjadi buang-buang waktu? Aku harus tetap berpura-pura.</p>
<p>Seandainya aku boleh membandingkan, tentu lebih baik orang-orang yang serius belajar di luar pendidikan formal ketimbang orang-orang yang pergi ke kampus hanya untuk menitip absen. Tentu, esensinya tidak sampai, <em>'kan</em>? Terkesan dikotomis kedengarannya, namun faktanya seperti itu.</p>
<p>Saat aku kuliah, setiap harinya aku mulai beradaptasi dengan waktu kampus. Selama empat tahun aku seperti itu. Sepanjang aku kuliah, sebenarnya tidak berjalan mulus. Pada semester 5 misalnya, aku sudah mulai merencanakan keluar dari kampus, sebab saat itu aku mulai dapat banyak pekerjaan sampingan.</p>
<p>Sialnya, kakakku masih tidak memberi izin. Bila dipikir sekarang, mengapa aku dahulu tidak memiliki keberanian untuk –secara radikal– keluar dari kampus begitu saja. Entahlah, mungkin umurku yang masih begitu muda dan tidak percaya diri dengan masa depanku.</p>
<p>Karena masa kuliahku sudah di pertengahan, tentu alasan aku tidak boleh keluar adalah karena masa kuliahku sudah di pertengahan.</p>
<p>Di masa kuliah seperti itu, mata kuliah mulai berkurang, sehingga dalam sebulan mungkin aku masuk hanya beberapa kali saja. Itupun aku maksudkan hanya untuk bertemu teman. Jika bertemu teman di luar kampus dan mereka mengajakku untuk pergi ke studio musik, tentu aku lebih memilih belajar di studio musik. Aku tidak bolos, hanya saja tempat belajarku dialihkan dan aku lebih tertarik belajar musik~</p>
<p>Seiring bertambahnya semester, juga berarti umurku bertambah. Hal yang aku pelajari adalah semakin umurku bertambah semakin keberanian dan pikiran-pikiran kritisku muncul. Mungkin memang pengaruh dari buku dan pelajaran-pelajaran filsafat yang aku konsumsi. Aku mulai tertarik pada materi-materi belajar berpikir kritis pada umur akhir belasan dan awal 20-an.</p>
<p>Sebab itu juga pikiran-pikiran untuk keluar dari kampus pun muncul kembali, memang pikiran tersebut tak pernah hilang, hanya saja terbenam, butuh argumen yang kuat untuk menyulutnya agar kembali hidup dan menjadi ledakan.</p>
<p>Saat itu di semster akhir, aku sedang menyusun skripsi sambil membantu skripsi teman-temanku yang lain. Banyak dari mereka tak bisa membuat program untuk skripsi, sehingga aku membuatkannya dari awal, sebagian yang lain tak begitu pandai dalam penulisan, jadi aku bantu mereka bagian penulisannya.</p>
<p>Di saat itu juga justru birahi untuk keluar dari kampus sudah mencapai orgasme, tak bisa ditahan, disulut dengan argumen-argumen yang sudah aku bentuk semasa aku kuliah. Pada saat itu juga kakakku justru setuju untuk aku keluar dari kampus. Aku sungguh yakin, bahwa cara berpikir kakakku semakin lebih terbuka dari sebelumnya.</p>
<p>Padahal, saat itu juga skirpsiku sudah dikumpulkan dan aku hanya perlu pergi sidang. Teman-temanku yang lain pergi sidang dan aku sendirian tidak pergi. Bagi mereka aku bodoh, sebab hanya tinggal selangkah lagi maka aku akan menjadi seorang sarjana, tapi sebenarnya mereka tidak paham, justru aku memang menyengaja tidak pergi agar tidak menjadi sarjana.</p>
<p>Wisuda merupakan sebuah peristiwa sederhana, namun menjadi seorang sarjana artinya ada nama kampus yang menempel pada diri. Aku menyengaja tidak menjadi sarjana pada kampus yang buruk agar hal-hal tersebut menzarah dan dilupakan.</p>
<p>Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa perihal kondisi belajarku. Sebab tidak ada gunanya meratapi kondisi hidup. Aku hanya berpikir bagaimana aku bisa tetap memperoleh pendidikan dengan cara belajarku yang tidak umum. Pun jangan bandingakan orang sepertiku dengan mereka, sebab mereka berlari pada setapak yang sudah dilalui banyak orang.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, adikku baru saja lulus kuliah di salah satu kampus negeri di Jakarta. Ia seorang yang sangat pandai dalam bidang matematika dan pelajaran umum lainnya, itu mengapa ia selalu memenuhi syarat masuk ke pendidikan negeri.</p>
<p>Semua anggota keluarga sangat mendukung keputusannya untuk kuliah hingga lulus, sama seperti saat mendukungku untuk kuliah hingga tidak lulus. Aku mendukungnya dengan memenuhi kebutuhan finansialnya, seperti indekos atau keperluan kuliah yang lebih spesifik.</p>
<p>Aku menikmati melakukannya. Selain karena merasa sebagai seorang kakak aku memiliki tanggungjawab atas adikku, aku pun mengamati bahwa ia telah mendapat metode terbaiknya dalam memperoleh pendidikan, yaitu lewat kampus.</p>
<p>Kuliah hanya satu dari sekian metode yang dapat digunakan untuk memperoleh pendidikan. Aku dapat memperoleh pendidikan dengan metodeku sendiri, kendati tidak umum namun aku sangat menikmatinya. Tak semua orang dapat menikmati kenikmatan dalam belajar. Aku pernah sekolah dan juga kuliah, namun kenikmatan belajar aku alami saat aku belajar mandiri.</p>
<p>Tidak apa-apa tidak kuliah, sebab tidak semua mampu kuliah, tidak semua kuliah perlu diluluskan, dan tidak semua lulus bisa dipekerjakan.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tidak Apa-Apa, Kita Semua Memang Capek]]></title><description><![CDATA[Aku pernah berpikir bahwa sepertinya lebih menyenangkan menjadi adikku, ia hanya perlu fokus sekolah atau kuliah, tidak perlu pusing memikirkan pekerjaan kantor yang membuat pusing. Aku pun mulai memikirkannya lebih jauh, mengapa adik-adikku ini bany...]]></description><link>https://esai.nauv.al/tidak-apa-apa-kita-semua-memang-capek--deleted</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/tidak-apa-apa-kita-semua-memang-capek--deleted</guid><category><![CDATA[refleksi]]></category><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Sat, 28 Jan 2023 17:53:08 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1674927705460/140fb5e8-236d-41de-ac60-eed6b4df8317.png" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Aku pernah berpikir bahwa sepertinya lebih menyenangkan menjadi adikku, ia hanya perlu fokus sekolah atau kuliah, tidak perlu pusing memikirkan pekerjaan kantor yang membuat pusing. Aku pun mulai memikirkannya lebih jauh, mengapa adik-adikku ini banyak mengeluh, bukankah mereka hanya pusing oleh tugas sekolah atau tugas kuliahnya saja?</p>
<p>Sedangkan aku, aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan, memikirkan untuk biaya mereka sekolah atau kuliah, belum lagi aku harus mengerjakan pekerjaan sampingan. Pikirku itu jauh lebih berat ketimbang tugas dari sekolah atau kuliah.</p>
<p>Tugas-tugas dari sekolah atau kuliah "tidak apa-apa" bila tidak dikerjakan atau masih ada remedial bila ada yang kurang. Lagi pula apa <em>capek</em>nya? Pekerjaanku jauh lebih berat!</p>
<p>Seringkali aku harus begadang, bahkan di kasus yang lebih buruk aku bangun pagi karena telepon dari atasan di kantorku. Hal seperti itu aku alami saat awal-awal aku menjadi seorang software-engineer, dan aku alami itu lebih dari 4 tahun.</p>
<p>Belum lagi aku masih harus mengerjakan kerjaan di luar kantor, aku kerjakan itu semalaman, tidak jarang aku tidur sehabis waktu subuh.</p>
<p>Hal-hal semacam itu yang seringkali menjadi awal pikiranku yang membandingkan beban yang aku alami dengan adik-adikku. Pemicunya tak jarang saat adik-adikku mengeluh soal tugas-tugas mereka yang menurut mereka begitu berat atau saat adik-adikku sedang santai, aku jadi memikirkan betapa enaknya jadi mereka ini.</p>
<p>Apalagi ketika mereka sedang menangis kadangkala aku bertanya pada diriku sendiri, "Bukankah seharusnya aku yang melakukan itu? Aku yang menjalani beban yang begitu banyak ini."</p>
<p>Semakin lama aku jalani menjadi salah seorang yang paling diandalkan, tentu memberiku banyak pelajaran, banyak kebijaksanaan.</p>
<p>Sebenarnya aku tak bisa bilang kedua adikku ini tidak <em>capek</em> hanya karena mereka tak menjalani pekerjaan sepertiku. Tentu saja kita memiliki perannya masing-masing. Bagi kedua adikku ini tugas-tugas yang mereka dapatkan dari sekolah maupun kuliah sudah menjadi ke-<em>capek</em>-annya sendiri.</p>
<p>Bagi mereka tugas-tugas semacam itu sudah membuat lelah dan seringkali <em>stress</em>. Tak jarang bila mereka sudah mencapai titiknya, mereka lampiaskan dengan menangis namun masih mereka kerjakan tugas-tugas itu. Tidak apa-apa menangis, kita semua memang pernah menangis. Itu bukan sesuatu yang hina.</p>
<p>Saat aku mencapai titik kelelahanku, aku lebih baik diam dan merenung atau menangis sendirian ketimbang aku melampiaskannya pada sesuatu yang lebih buruk, seperti memaki atau memarahi orang lain hanya karena merasa kita <em>capek</em>. Selain itu aku bisa menghindari berkata yang akan menyakiti hati orang lain, tentu lebih buruk!</p>
<p>Pikiran-pikiran dahuluku tentu begitu arogan, seolah aku berhak merasa paling <em>capek</em> satu planet ini. Seolah-olah tidak ada lagi yang berhak lebih <em>capek</em> dariku. Seolah karena aku <em>capek</em> maka aku berhak melakukan apapun. Seolah hanya karena orang lain tidak sama <em>capek</em>nya denganku maka mereka aku anggap tidak <em>capek</em> sama sekali.</p>
<p>Tentu semua orang itu <em>capek</em>, mereka memiliki <em>capek</em>nya sendiri. Adikku yang satu harus menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, adikku yang satunya harus menyelesaikan skripsi tepat waktu agar tak menambah semester. Tentu mereka ini termasuk orang-orang yang <em>capek</em>. Mereka <em>capek</em> pada tanggungjawabnya masing-masing. Mereka <em>capek</em> sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.</p>
<p>Bukankah Tuhan sudah begitu adil? Ia memberikan porsi <em>capek</em> pada individu-individu yang tepat. Sayangnya, arogansi kitalah yang membuat seolah kita ini adalah individu yang paling <em>capek</em> satu galaksi Bima Sakti.</p>
<p><em>Capek</em> itu tidak-apa, karena kita semua memang <em>capek</em>. Menangis karena <em>capek</em> pun tidak apa-apa, sebab menangis merupakan proses pemulihan tubuh dari tekanan emosi. Berpikir kita adalah manusia paling <em>capek</em> di planet ini, itu yang tidak boleh, sebab akan memunculkan arogansi. Seolah-olah kita berhak melakukan apapun pada siapapun.</p>
<p>Kita harus lebih mengerti individu lain, mereka juga sama <em>capek</em>nya seperti kita, hal ini akan menumbuhkan kebijaksanaan. Tak perlu memberi makan ego, sebab tabiat kita adalah saling mengerti.</p>
<p>Tidak apa-apa, kita semua memang <em>capek</em>.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Menikahnya Buru-Buru]]></title><description><![CDATA[Menikahi seorang perempuan artinya melibatkan orang lain, setiap tindakanku sudah pasti istriku akan terlibat. Sungguh bernasib sial bila seorang perempuan baik-baik dinikahi oleh seorang pria berengsek.
Secara teknis, menikah itu mudah saja, apalagi...]]></description><link>https://esai.nauv.al/menikahnya-buru-buru</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/menikahnya-buru-buru</guid><category><![CDATA[satire]]></category><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Sat, 24 Dec 2022 23:24:44 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Menikahi seorang perempuan artinya melibatkan orang lain, setiap tindakanku sudah pasti istriku akan terlibat. Sungguh bernasib sial bila seorang perempuan baik-baik dinikahi oleh seorang pria berengsek.</p>
<p>Secara teknis, menikah itu mudah saja, apalagi orang tuamu kaya raya. Minta saja uang pada mereka untuk menikah di tempat yang megah, paling tidak biaya untuk mahar pada calon istri, dan kebutuhan resepsi.</p>
<p>Kehidupan setelah menikah pun sederhana saja, tinggal mencari rumah kontrakan, atau paling tidak minta satu ruangan di rumah orang tuamu untuk kamu tinggali bersama istri tercinta, rayu saja orang tuamu dengan calon cucu yang akan kamu generasi untuk mereka.</p>
<p>Tak perlu memiliki pekerjaan yang hebat dengan gaji yang fantastis, gaji di bawah UMR pun tidak masalah, <em>toh</em> rezeki itu sudah diatur Tuhan! Bila gajimu kurang, masih bisa minta ke orang tua. Tidak perlu malu, <em>kan</em> demi anak dan cucu tercinta.</p>
<p>Menikah itu harus, sebab malu pada teman-teman yang sudah menikah lebih dulu dari kamu! Lihatlah teman-temanmu yang sudah menikah dan memiliki anak? Betapa bahagianya mereka dengan keluarganya.</p>
<p>Menikah itu sudah pasti bahagia, tidak mungkin tidak. Angka perceraian yang tinggi di beberapa daerah di Indonesia ini anggap saja mereka hanya bernasib sial. Mereka yang miskin setelah menikah pun anggap saja mereka tidak pandai melobi orang tuanya. Tidak usah pedulikan itu, menikah <em>kan</em> untuk menghindari <em>zinah</em>.</p>
<p>Urusan yang tidak penting seperti asuransi, anak, tempat tinggal, kendaraan, dan <em>parenting</em> itu jangan terlalu dipikirkan. Nanti saja, yang penting menikah dulu. Rezeki sudah ada yang mengatur, tak perlu usaha keras-keras, biarkan ia datang sendiri. Apalagi soal mendidik anak, hal sepele seperti ini tak seharusnya jadi penghalang!</p>
<p>Pada zaman teknologi 4.0 ini, mendidik anak itu mudah, belikan saja anakmu itu ponsel pintar dan pasang YouTube Kids di dalamnya, biarkan anakmu mendidik dirinya sendiri. Kamu tidak perlu repot-repot memerhatikan anakmu, karena dia sudah pasti anteng dengan guru barunya.</p>
<p>Bila masih terasa kurang, kamu bisa pasang aplikasi YouTube reguler. Tak usah peduli apa yang ditonton anakmu, ia lebih paham dari kamu. Ia bisa berakrobatik lebih lihai dengan komputer mininya dibanding kamu. Bisa saja ia sedang belajar feminisme, karena ia berpikir untuk membela Ibunya bila sang Ayah bersikap berengsek.</p>
<p>Jangan sekali-kali berani memisahkan anakmu dengan gurunya itu, bisa-bisa ia mengamuk tak terkendali, dan kamu tidak tahu harus apa. Lebih baik biarkan ia, dan kamu bisa pergi melakukan aktivitas yang lebih penting, seperti senda-gurau di WhatsApp grup alumni sekolahmu dulu.</p>
<p>Suatu waktu anakmu tak terkendali dan mencederai temannya, kamu hanya perlu minta maaf pada orang tuanya, namanya juga anak kecil sudah pasti begitu sikapnya. Kemudian ia beranjak menjadi remaja dan membuat onar, santai saja, anak di bawah umur acapkali tidak akan kena pidana.</p>
<p>Jika memiliki seorang anak masih belum cukup, kamu bisa menggenerasinya lagi. Tak perlu pedulikan semua kebutuhan yang ada, banyak anak, banyak rezeki, <em>'kan</em>?</p>
<p>Lagipula memiliki seorang anak balita itu merupakan peluang bisnis. Zaman sekarang sudah ada hal semacam Instagram, dandani anakmu, rekam ia, dan biarkan uangnya mengalir. Ah, peduli setan dengan privasi anakmu itu, ia masih kecil dan tak mengerti hal semacam itu!</p>
<p>Kita harus menikah, sebab menikah adalah tujuan hidup kita diturunkan ke bumi ini. Sungguh sangat merugi orang-orang yang tidak menikah itu!</p>
<p>Ketika sudah menikah, maka hidup sudah selesai, tidak perlu berusaha melakukan kontribusi pada peradaban lagi. Sebab kamu sudah membuat sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Tidak semua orang dapat melakukannya.</p>
<p>Kamu juga dapat terus-menerus bertanya pada teman-temanmu yang belum menikah itu. Lihat saja kehidupan mereka yang menyedihkan tanpa pernikahan. Hanya banyak uang saja, tapi tidak menikah. Untuk apa kaya harta, tapi tidak memiliki keluarga!</p>
<p>Betapa pentingnya menikah, sampai-sampai banyak orang selalu menanyakan hal itu. Tidak peduli kamu sudah lulus kuliah, sudah memiliki rumah sendiri, atau sudah memiliki kendaraan sendiri, sebab menikah lebih penting dari semuanya!</p>
<p>Apalagi bagi seorang perempuan, untuk apa sekolah tinggi-tinggi yang ujung-ujungnya jadi istri dan bekerja di dapur. Perempuan itu tak perlu paham banyak hal, sebab tugasnya hanya sebagai pelayan suami saja! Biarkan suami yang bekerja mengandalkan ototnya yang kekar itu, urusan akal belakangan, yang penting otot dulu nomor satu.</p>
<p>Lagipula untuk apa memiliki suami yang pandai berpikir tapi tak bisa berkelahi, <em>'kan</em>? Zaman sekarang itu zamannya berkelahi! Tak peduli masalahnya apa, yang penting berkelahi dulu. Bila salah, ya tinggal meminta maaf <em>dong</em>. Begitu saja dibuat repot!</p>
<p>Tidak perlu belajar <em>science</em>, tidak perlu mencari harta banyak-banyak, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, hal-hal itu tidak akan dibawa mati!</p>
<p>Pesan terakhirku adalah menikah itu nomor satu, bila tidak percaya tanya saja pada nafsu birahimu. Tidak mungkin mereka akan menolaknya.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[The array id Handbook: Mengapa Saya Dan Teman-Teman Membuat array id?]]></title><description><![CDATA[Komunitasnya mati, namun, idenya masih hidup!

Beberapa tahun terakhir semakin banyak orang yang rajin berbagi hal-hal baik dalam konteks ilmu pendidikan, lebih tepatnya soal software engineering. Hampir di setiap platform yang saya kunjungi pasti ad...]]></description><link>https://esai.nauv.al/the-array-id-handbook-mengapa-saya-dan-teman-teman-membuat-array-id</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/the-array-id-handbook-mengapa-saya-dan-teman-teman-membuat-array-id</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Fri, 08 Oct 2021 08:32:29 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Komunitasnya mati, namun, idenya masih hidup!</p>
</blockquote>
<p>Beberapa tahun terakhir semakin banyak orang yang rajin berbagi hal-hal baik dalam konteks ilmu pendidikan, lebih tepatnya soal software engineering. Hampir di setiap platform yang saya kunjungi pasti ada saja yang berbagi pengetahuan soal software-engineering, entah itu yang praktikal atau hanya sekadar teori – keduanya sama-sama baik.</p>
<p>Komunitas software engineering di Indonesia pun semakin bertumbuh dan semakin ramai. Setiap komunitas yang kami masuki, jarang sekali sepi audience. Hampir setiap jamnya ada orang yang berdiskusi, bertanya, atau berbagi sumberdaya dari platform lain.</p>
<p>Dalam pengataman saya sejauh ini, semakin tinggi populasi dalam suatu komunitas (software engineering), semakin besar pula potensi komunitas itu disusupi oleh orang-orang 'sok pintar'. Orang-orang semacam ini biasanya bila ada yang bertanya, bukannya dijawab tapi malah di-bully. Hal yang ini yang menjadi keresahan utama saya selama ini.</p>
<p>Tindakannya seringkali terlihat sepele, hanya mengeluarkan kata umpatan melalui papan ketik yang digunakannya. Tapi akibatnya bisa membuat orang kehilangan semangat belajar. Bila hal ini terus terjadi, komunitas yang seharusnya menjadi tempat belajar bersama-sama, malah menjadi tempat yang paling dihindari.</p>
<p>Ketika sadar saya ini hidup di negara yang memiliki indeks pendidikan rendah, maka seharusnya bukan hal yang ajaib – kecewa tapi tidak terkejut. Di balik itu, masih banyak sebenarnya komunitas-komunitas dengan populasi yang ramah.</p>
<p>Komunitas juga seringkali menjadi hal kedua yang dicari oleh para pemula yang hendak belajar setelah mencari materi untuk dipelajari. Banyaknya sumber daya belajar software engineering di internet, menjadikan banyak orang tertarik belajar soal software engineering dengan metode self-taught.</p>
<p>Akhirnya orang-orang ini akan mencari komunitas yang bisa diandalkan untuk menampung pertanyaan-pertanyaan mereka. Bisa dibayangkan orang yang baru belajar, bertanya, dan malah di-bully. Dengan seperti itu, array id juga ingin menjadi alternatif komunitas yang menyediakan sumber daya belajar dan juga menjadi komunitas yang ramah untuk pemula.</p>
<p>Saya ketika membuat materi belajar selalu mengasumsikan bahwa saya sedang mengajari teman sebaya saya. Maka dari itu juga orang-orang yang berada dalam komunitas array id saya sebut dengan 'teman-teman'. Agar tidak terdapat 'gap' yang menimbulkan rasa 'tidak enak' ketika hendak bertanya atau mendebat sesuatu yang seharusnya dikoreksi. Feodalisme dalam proses belajar sudah tentu array id tolak.</p>
<p>Perlu ditegaskan, array id hadir bukan karena NIH syndrome dari saya atau pengurus lainnya, melainkan semata-mata ingin berkontribusi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negeri ini.</p>
<p>Internet di Indonesia ini banyak 'disusupi' oleh konten-konten yang tidak baik bahkan cenderung merusak kualitas generasi muda. Mulai dari video soal perundungan dengan dalih becanda, video goyang-goyang yang nirfaedah, dan jenis-jenis konten yang merusak moral lainnya. Yang dikhawatirkan hal-hal seperti itu akan menjadi normal yang baru.</p>
<p>Saya percaya bahwa saya tidak pernah bisa menghapus konten-konten merusak yang ada di internet. Tapi setidaknya saya memiliki kemampuan untuk membuat konten-konten pedagogis. Bisa dibayangkan bila banyak orang membuat konten serupa seperti teman-teman array id, maka dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan bisa memiliki SDM yang lebih berkualitas.</p>
<p>Sejauh ini saya baru menjelaskan bahwa terciptanya array id karena dua alasan: sebagai komunitas alternatif yang ramah untuk pemula, dan juga meningkatkan kualitas SDM di Indonesia dengan membuat sumber daya belajar untuk masyarkat Indonesia tanpa adanya eksklusifitas dan dengan pendekatan belajar yang berbeda.</p>
<p>Software engineer seringkali disangkutpautkan dengan kerja cerdas, karena kerjanya sangat bertumpu pada kemampuan otak. Pernyataan tersebut memang betul adanya, seorang software engineer mungkin kelihatannya hanya duduk saja, tapi di dalam otaknya sedang bekerja keras mencari jalan keluar untuk menyelesaikan suatu masalah dalam program yang dibuatnya.</p>
<p>Tapi seringkali ditemukan seorang (yang mengaku) software engineer dalam kehidupan sosialnya tidak merepresentasikan 'kerja cerdas' yang sering disematkan pada dirinya itu. Memang betul ketika bekerja benar-benar kritis, tapi dalam kehidupan sosial seringkali tidak kritis. Kamu bisa melihat teman kamu yang software engineer berapa kali membagikan berita bohong, atau berita yang tendensius. Atau ketika berargumen seringkali fallacies.</p>
<p>Hal tersebut juga yang menjadi keresahan saya lainnya untuk menciptakan array id yang bukan hanya membahas soal-soal software engineering, tapi juga menanamkan paham-paham kritis agar tidak demagog dan tidak feodal.</p>
<h2 id="heading-eksklusifitas">Eksklusifitas</h2>
<p>array id tidak memproduksi sumber daya yang eksklusif, semua sumber daya yang saya dan pengurus lainnya ciptakan dapat diakses oleh siapa saja dan di beberapa platform yang saya dan teman-teman lainnya gunakan. Bukan berarti array id menolak atau bahkan membenci teman-teman kami yang membuat konten eksklusif. array id mendukung konten eksklusif dari teman-teman di dalam atau di luar array id selama konten tersebut bermanfaat untuk kehidupan manusia dan tidak melanggar hukum &amp; norma-norma di Indonesia.</p>
<p>Bila pengurus atau teman-teman array id memproduksi konten eksklusif, ada beberapa yang perlu dipahami:</p>
<ul>
<li><p>Bila pengurus membuat konten eksklusif, tidak boleh mengatasnamakan array id. Gunakan nama pribadi atau brand sendiri (bila punya)</p>
</li>
<li><p>array id hanya sebagai media promosi saja</p>
</li>
</ul>
<h3 id="heading-contoh">Contoh</h3>
<p>Nauval membuat konten tutorial berbayar, konten tersebut tidak boleh mengatasnamakan array id, harus mengatasnamakan Nauval sendiri atau brand yang ia punya. Namun Nauval boleh menjadikan array id sebagai media promosi, seperti potongan video atau beberapa bagian tutorialnya diunggah di Youtube array id atau di platform lain sebagai bentuk kontribusi ke komunitas dan bisa dijadikan media promosi juga.</p>
<h2 id="heading-penghasilan">Penghasilan</h2>
<p>Penghasilan array id dari berbagi platform sepenuhnya masuk ke kas array id, tidak boleh digunakan untuk keperluan pribadi. Dana yang tersimpan di kas array id digunakan untuk keperluan menunjang keberlangsungan hidup komunitas ini, seperti:</p>
<ul>
<li><p>Membayar sewa server setiap bulan</p>
</li>
<li><p>Membayar biaya promosi (bila ada)</p>
</li>
<li><p>Membayar domain setiap tahun</p>
</li>
<li><p>Berdonasi atas nama array id untuk bencana alam dsb</p>
</li>
<li><p>Pembuatan merch: baju, mug, buku, stiker, dsb</p>
</li>
</ul>
<p>Sejauh ini penghasilan array id hanya dari Monetize Youtube dan juga donasi di platform Trakteer.</p>
<h2 id="heading-platform">Platform</h2>
<p>array id menggunakan beberapa platform untuk mempublikasi sumber daya dan keperluan lainnya, diantaranya:</p>
<ul>
<li><p>Youtube: <a target="_blank" href="https://www.youtube.com/channel/UCQzfClEEDfuVuES-GQUy6aw">https://www.youtube.com/channel/UCQzfClEEDfuVuES-GQUy6aw</a></p>
</li>
<li><p>Instagram: <a target="_blank" href="https://instagram.com/itsarrayid">instagram.com/itsarrayid</a></p>
</li>
<li><p>Spotify: <a target="_blank" href="https://open.spotify.com/show/5C0F3y2D6DdNh2G7beV03H">https://open.spotify.com/show/5C0F3y2D6DdNh2G7beV03H</a></p>
</li>
<li><p>Trakteer: <a target="_blank" href="https://trakteer.id/arrayid">https://trakteer.id/arrayid</a></p>
</li>
<li><p>Discord: <a target="_blank" href="https://discord.com/invite/rS6ZD79RZB">https://discord.com/invite/rS6ZD79RZB</a></p>
</li>
</ul>
<p>Selain beberapa platform di atas, itu bukan milik array id atau (mungkin) milik array id namun sudah menjadi artefak.</p>
<h2 id="heading-hirarki">Hirarki</h2>
<p>Sejauh ini array id adalah komunitas yang masih kecil, hanya ada 2 pengurus inti di dalamnya dan belum terdapat hirarki yang begitu panjang. Hirarki ini ditentukan dengan banyaknya kontribusi di array id.</p>
<h3 id="heading-1-nauval">1. Nauval</h3>
<p>Nauval sebagai presiden di array id, artinya ia yang bertanggung jawab penuh dengan apa yang diproduksi oleh array id.</p>
<h3 id="heading-2-rizal">2. Rizal</h3>
<p>Rizal sebagai wakil Presiden array id, artinya ia yang bertanggung jawab penuh dengan apa yang diproduksi oleh array id menggantikan Nauval bila terjadi '<em>force majeure'</em></p>
<p>Masing-masing pengurus sudah pasti memiliki kegiatan di luar array id dan mungkin saja memiliki brand mereka sendiri. Jadi, perlu diingat bahwa apapun yang pengurus-pengurus array id lakukan di luar kegiatan array id maka itu menjadi tanggung jawab pengurus itu sendiri di kegiatannya tersebut.</p>
<hr />
<p>Saya selalu berharap dengan membuat komunitas ini menjadi motivasi bagi diri saya sendiri dan teman-teman lainnya untuk terus berbagi dan berkontribusi dalam bidang pendidikan. Kadangkala saya berpikir, sebetulnya orang Indonesia bukan malas belajar, melainkan mungkin saja pendekatan cara belajar orang Indonesia yang agak berbeda. Jadi, di situlah saya dan teman-teman lain sebagai pengajar harus pintar-pintar cari akal agar konten pendidikan tidak menjadi membosankan.</p>
<p>Teruslah berbagi karena hidup bukan hanya tentang seberapa yang kita dapat, tapi juga seberapa yang kita telah beri.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Dipaksa Sempurna Di Tengah Masyarakat Yang Menghakimi]]></title><description><![CDATA[Aku pernah bertanya pada guru ngajiku, waktu itu pagi setelah "mencoret-coret" kitab, aku bertanya soal sesuatu yang aku sendiri tidak ingat pertanyaanya, namun ada kalimat yang aku ingat, "...hari ini bisa saja kamu yang benar, dan temanmu salah. Be...]]></description><link>https://esai.nauv.al/dipaksa-sempurna-di-tengah-masyarakat-yang-menghakimi</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/dipaksa-sempurna-di-tengah-masyarakat-yang-menghakimi</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Mon, 16 Aug 2021 17:00:00 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Aku pernah bertanya pada guru ngajiku, waktu itu pagi setelah "mencoret-coret" kitab, aku bertanya soal sesuatu yang aku sendiri tidak ingat pertanyaanya, namun ada kalimat yang aku ingat, "...hari ini bisa saja kamu yang benar, dan temanmu salah. Besok-besok bisa jadi temanmu yang benar, dan kamu yang salah. Kebenaran yang mutlak hanya Al-Quran...".</p>
<p>Manusia sudah pasti salah, berbuat apapun pasti salah, bila belum salah hanya tinggal menunggu salah. Karena itu memang tabiat manusia. Tapi kenapa manusia "modern" tidak memahami ini?</p>
<p>Orang yang berprilaku buruk bisa saja punya kebaikan yang tidak bisa dilihat di siang hari. Begitu pula orang yang berprilaku baik di siang hari, kita tidak pernah tahu prilaku buruknya setelah matahari tenggelam.</p>
<p>Mungkin saja menjaga aib sendiri bukan karena takut Tuhan, tapi karena takut dihakimi orang lain. Karena tidak bisa membayangkan ketika ada nama kita di dalam kotak trending sosial media dan ternyata isinya semua hujatan seperti air terjun.</p>
<blockquote>
<p>Hujatan yang satu masih di sungai, sedangkan satu yang lainnya setelah hujatan lain jatuh</p>
</blockquote>
<p>Aku tidak bilang, "maka berbuat buruklah, karena tabiat manusia itu salah". Aku hanya tidak habis pikir, mengapa manusia-manusia ini berasa paling sempurna? Bukankah sebelum memberitahu rumah orang lain terbakar, pastikan dahulu api di rumah kita sudah benar-benar padam?</p>
<p>Tentu orang yang salah dan melanggar hukum ya perlu dihukum, tapi ini soal menanggapi suatu kesalahan seseorang secara pribadi. Tidak jarang juga hal seperti ini dijadikan manfaat karena punya rasa ketidaksukaan terhadap pribadinya sedari dulu.</p>
<p>Seperti tidak suka terhadap seseorang entah karena apa, kemudian seseorang tersebut kebetulan ada satu keburukannya terungkap. Momen inilah yang seringkali dijadikan manfaat. Biasanya akan diekploitasi lebih jauh lagi pribadinya karena satu celah ini, dengan harapan menemukan keburukan-keburukan yang lain untuk diekspos.</p>
<p>Kadang manusia lupa konteks. Bisa jadi satu keburukan yang lalu sudah diperbaiki. Lalu keburukan yang baru ini adalah keburukan dia yang lainnya. Bukan malah digunakan untuk menambah "value" dalam menghakimi seseorang.</p>
<p>Peristiwa seperti itu seringkali terjadi di Internet, di mana kecepatan tangan lebih cepat ketimbang kecepatan berpikir. Otak dijadikan media penyimpanan bak hardisk, bukannya digukanan seperti processor. Hal ini yang menjadi masalah, karena masyarakat akan berprilaku sesuai ingatan yang masyarakan lain lakukan. Bila masyarakat lain mengumpat, maka yang lainnya akan mengumpat. Entah apa persoalannya yang penting seragam dan yang penting hasratnya mengumpatnya terpenuhi.</p>
<p>Jangankan di Internet, di sekitar kita mungkin saja sering terjadi. Yang tidak kalah lucu itu ketika ada orang yang berbuat mesum kemudian dibubarkan tapi sambil direkam. I mean, WTF? Rekamannya memang untuk apa? Untuk menyebarkan perbuatan buruk sesorang? Bagaimana bila orangnya sudah memperbaiki diri, sedangkan rekaman keburukan dia tidak pernah bisa dilenyapkan? Berarti orang yang merekam sama saja tidak memberi kesempatan untuk orang lain memperbaiki diri. Tapi kan itu sanksi sosial? Wah sanksi sosial yang panjang, ya!</p>
<p>Sudah tentu aku tidak membenarkan kegiatan mesum seperti itu. Tapi mengekspos keburukan orang lain itu juga sama-sama tidak benar. Orang yang berbuat keburukannya mungkin dia akan taubat dan diampuni, sedangkan orang yang mengekspos keburukannya lebih sulit menurutku, berkat dia banyak orang yang menonton keburukan tersebut, yang mungkin saja menjadi dosa jariyah. Berada di dalam lingkungan masyarakat seperti ini berat rasanya. Seakan bebas tapi tidak bebas.</p>
<p>Bila ada seorang mahasiswa yang berkelakuan buruk, dia akan dicari berkuliah di universitas mana. Bila ada seorang jurnalis membagikan pikiran pribadinya, dia akan dicari dari pers mana. Bila ada seorang oknum polisi yang ditangkap karena melanggar hukum, maka seluruh polisi tidak dipercayai lagi. Pikiran-pikiran seperti itu yang sering terdengar hari-hari ini, bahkan yang sering terjadi juga.</p>
<p>Tidak ada kampus yang mengajari hal buruk, bila ada satu mahasiswa yang berkelakuan buruk ya berarti memang pribadi si mahasiswa yang buruk. Mengadu ke kampus di mana dia berada agar diberi hukuman ya tidak masalah, tapi bila sampai mem-blacklist, ya itu tidak masuk akal.</p>
<p>Ini juga yang menjadi alasan ketika terdapat suatu peristiwa yang tidak baik di suatu sekolah yang dilakukan oleh siswa maka kepala sekolah biasanya bilang, "jangan sampai berita ini ke luar sekolah ya!". Karena bila sampai masyarakat tahu, maka akan hilang trust kepada sekolah tersebut. Bila masyarakatnya cerdas maka hal ini ya tidak menjadi masalah. Masa karena seorang siswa yang buruk, maka sekolah menjadi tidak layak?</p>
<p>Begitu juga dengan seorang jurnalis, bila dia punya pikiran pribadinya terkait sesuatu, seburuk apapun itu ya itu urusan pribadinya. Media di mana dia bekerja boleh saja memecatnya, tapi tidak serta-merta pers tersebut tidak lagi kredibel.</p>
<p>Begitu juga dengan polisi, jika ada satu polisi berkelakuan buruk ditangkap bukan berarti keseluruhannya menjadi buruk juga. Kan seharusnya bagus bila ada polisi menangkap oknum polisi yang melanggar hukum, artinya polisi itu adil. #BISMILLAHKAPOLRI</p>
<p>Tapi yang paragraf terakhir itu serius juga, lho.</p>
<p>Ketika hidup di masyarakat yang judgemental orang akan cenderung sembunyi-sembunyi, hidup dikelilingi rasa takut salah, dan pada akhirnya juga tidak ada keberanian mencoba.</p>
<p>Contoh lain yang paling sederhana itu adalah kampus atau sekolah. Kalo kamu kuliah kemudian saat dosen menjelaskan fafifuwasweswos dan bertanya kepada mahasiswa soal sesuatu. Katakanlah kamu yang menjawab dan salah, seringkali ditertawakan. Bahkan bertanya sesuatu yang kamu benar-benar tidak tahu tapi menurut dosen itu adalah sesuatu yang basic, akhirnya dosen cuma menjawab, "gitu aja kok ditanyain" dan diakhiri dengan gelak tawa satu ruangan.</p>
<blockquote>
<p>Jawab salah kok diketawain? Ya kalo lo bisa jawab yang bener, jawab aja sama lo, Anjing!</p>
</blockquote>
<p>Akhirnya peristiwa-peristiwa tidak enak tersebut akan selalu teringat yang bikin prilaku kita menjadi berubah. Yang tadinya aktif diskusi atau aktif bertanya malah nggak mau nanya-nanya lagi. Sial, bener!</p>
<p>Jadi seolah-olah kita hidup sebagai manusia harus sempurna: tidak boleh salah dan tidak boleh memiliki masa lalu yang buruk. Apakah manusia dewasa ini sudah kekurangan urusan sehingga mengurusi urusan yang lain? Apakah manusia dewasa ini sudah kekurangan kesalahan sehingga "mengemis" kesalahan orang lain?</p>
<p>Kadang aku juga jadi berpikir apa karena hidup di tengah masyarakat seperti ini yang membuat pemikiran-pemikiran minoritas itu sedikit.?Atau karena sedikitnya anti-thesis yang membentuk prilaku masyarakat menjadi menghakimi seperti ini?</p>
<p>Ya sudah lah, gw mending bikin tutorial saja di Yutub daripada mikirin yang beginian, nggak ada duitnya! Padahal bikin tutorial di Yutub juga nggak ada duitnya untuk saat ini~</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mengapa Belajar Pemrograman Menjadi Sulit?]]></title><description><![CDATA[Salah satu faktor yang membuat pemrograman jadi susah itu karena menggunakannya bukan berdasarkan kebutuhan – seringkali secara tidak sadar karena terpaksa. Melihat teman pakai Vue, tiba-tiba ikut pake Vue; lihat teman pakai Cobol, ikut pakai juga. P...]]></description><link>https://esai.nauv.al/mengapa-belajar-pemrograman-menjadi-sulit</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/mengapa-belajar-pemrograman-menjadi-sulit</guid><category><![CDATA[pemrograman]]></category><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Wed, 20 Jan 2021 17:23:49 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu faktor yang membuat pemrograman jadi susah itu karena menggunakannya bukan berdasarkan kebutuhan – seringkali secara tidak sadar karena terpaksa. Melihat teman pakai Vue, tiba-tiba ikut pake Vue; lihat teman pakai Cobol, ikut pakai juga. Padahal belum tentu masalahnya sama dan bisa diatasi oleh yang tadi.</p>
<p>Aku pernah belajar Angular karena dulu pake Ionic, mulai dari 1 sampai AngularTS. Belajar React karena nemu Next, jadi harus menyesatkan diri ke React fundamental. Belajar Python karena ingin <em>scraping</em>. Masalahnya paham betul, jadi paham <em>scope</em> belajarnya di mana dan tahu apa yang harus dicari.</p>
<p>Ketika belajar pemrograman bukan karena masalah, seringkali jadi bingung harus mulai dari mana, yang akhirnya malah jadi terjebak – tidak tahu apa yang sedang dilakukan dan mengapa ada di situ.</p>
<p>Jarang sekali ketika belajar hal baru baca dari awal <em>introduction</em> sampai akhir, biasanya punya suatu kasus, nemu <em>tech-stack</em> yang cocok, langsung coba implementasi, ketika sudah pas maka pelajari lebih dalam lagi.</p>
<p>Dalam bidang pemrograman ini, memang tidak melulu diawali dengan hal yang fundamental. Memang fundamental itu penting, tapi kapan belajar fundamental setiap orang beda-beda. Bila memang wajib harus diawali fundamental, sekarang semestinya tidak ada tutorial cara <em>deploy</em>, cara membuat <em>server block</em>, dsb.</p>
<p>Bila seorang <em>programmer</em> ditanya soal sesuatu yang fundamental ia tidak tahu, sebenarnya ia bukan tidak tahu, melainkan belum tahu, karena manusia berproses -- barangkali ia sedang belajar.</p>
<p>Aku sering mikir, ketika mencoba menjelaskan terminologi masih terbata-bata, berarti aku masih belum benar-benar paham. Karena bila benar-benar paham, akan dengan mudah membuat narasi sendiri untuk menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah.</p>
<p>Belajar memang bisa berdasarkan apapun, entah karena sedang tren, membaca judul buku, ikut2an teman, atau yang lainnya. Tidak ada yang salah dengan itu semua, lagipula aku tidak bicara benar atau salah, hanya sekadar menulis saja apa yang sering aku alami selama 9 tahun terakhir.</p>
<p>Ya, benar, tulisan dari <em>dev</em> yang minim pengalaman~</p>
<p><em>Telah disunting dari tulisan asli:</em></p>
<iframe src="https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fweb.facebook.com%2Fmhdnauvalazhar%2Fposts%2Fpfbid02X3CuufVsMkDgQGSERDnJjDy2zD9HiD58aUzQLvoT538nN5UkBTq5iaMfactGekokl&amp;show_text=true" width="100%" height="250"></iframe>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Fundamental Memang Penting]]></title><description><![CDATA[Pertama kali belajar JavaScript, saya mengira bahwa jQuery dan JS ini adalah 2 bahasa yang berbeda. Akhirnya saya memilih belajar jQuery, karena sintaksis yang lebih sederhana. Seiring berjalanannya waktu saya mulai sadar jQuery adalah sebuah pustaka...]]></description><link>https://esai.nauv.al/fundamental-memang-penting</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/fundamental-memang-penting</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Wed, 19 Aug 2020 05:00:00 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali belajar JavaScript, saya mengira bahwa jQuery dan JS ini adalah 2 bahasa yang berbeda. Akhirnya saya memilih belajar jQuery, karena sintaksis yang lebih sederhana. Seiring berjalanannya waktu saya mulai sadar jQuery adalah sebuah pustaka JavaScript. Akhirnya setelah 5 tahun pakai jQuery, saya belajar JS fundamental, untuk menghilangkan kebergantungan terhadap jQuery.</p>
<p>Ketika pemahaman saya masih minim terhadap JS fundamental, saya belajar AngularJS. Ya, Angular 1 adalah framework JS pertama yang saya pelajari. Saya bingung dengan sintaksis Angular, kemudian saya coba cari satu per satu apa yang saya tidak mengerti dan akhirnya membawa saya untuk mendalami JS fundamental.</p>
<p>Ketika pakai PHP, teman-teman saya sudah menggunakan CodeIgniter yang di mana sedang populer-populernya. Lalu saya tertarik belajar CI, padahal saat itu saya gak ngerti OOP. Akhirnya saya bingung, karena sintaksis CI ini beda dengan PHP native yang saya ketahui. Karena hal itulah saya "terpaksa" belajar OOP, agar mampu mengerti CI lebih baik lagi.</p>
<p>Begitu juga dengan tech-tech lainnya yang saya pelajari, seperti Figma, Node, React, etc. Ketika belajar Figma, saya nggak baca docs-nya, langsung aja buka app tersebut dan mulai menggambar di Canvas. Ketika belajar React, saya langsung melompat ke bagian "quickstart", supaya tahu app yang dibuat dengan React itu seperti apa. Sampai akhirnya saya menemukan kebingungan sendiri terhadap sesuatu tersebut karena saya nggak mempelajari fundamentalnya. Dan pada akhirnya saya kembali mempelajari fundamentalnya, kendati saya sudah tau cara menggunakannya.</p>
<p>Sama halnya juga ketika saya belajar bermain gitar, saya nggak tau teorinya, yang saya inginkan bagaimana saya bisa bermain gitar agar dapat membawakan lagu favorit saya. Ketika bisa bermain gitar, saya mulai bertanya-tanya, "kenapa chord bagian sini disebut D#? oh berarti ada urutannya?" dan akhirnya saya baca-baca lagi soal itu supaya tau alasannya.</p>
<p>Ketika masih kuliah, saya mencoba membuat kuliah umum untuk mengajar teman-teman saya soal web development (walaupun gak lama). Ketika mengajari mereka, saya langsung membuat mereka praktik, menulis kode, membuat website pertama mereka; karena saya tahu, mereka datang ke kelas itu ingin mencoba menulis kodenya sendiri dan mulai membuat sesuatu. Dan minggu berikutnya beberapa orang datang lagi, karena "menyenangkan" katanya.</p>
<p>Belajar fundamental itu penting memang. Tapi, coba kamu bayangin ketika seorang yang awam hendak belajar web development, lalu ia malah diberikan teori fundamental, seperti bagaimana web bekerja, bagaimana browser bekerja, atau bagaimana jaringan bekerja. Ya, kemungkinan besar orang tersebut kehilangan motivasi, dan menyerah karena terlalu diberi asupan teori sejak awal.</p>
<p>Maksud saya begini, tidak semua orang harus memulainya dari sana. Ada orang yang ingin melihat hasilnya buru-buru, bahkan ada orang yang harus menggunakan visual, dan lain sebagainya.</p>
<p>Programmer, bagi saya, tidak dapat dianalogikan dengan dokter. Karena programmer yang tidak spesialis pun mampu melakukan "operasi".</p>
<p>Biarkan saja orang belajar dengan starting point-nya sendiri, biarkan juga itu mengalir, hingga orang tersebut menemukan kebingungannya sendiri yang menjadi trigger ia mempelajari hal yang fundamental.</p>
<p>Hingga saat ini, saya masih sering buka MDN, bahkan seringkali saya baca-baca apapun hingga berjam-jam. Karena biasanya ada beberapa hal yang saya baru tahu atau sudah tau tapi "misapprehension".</p>
<p>Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman yang baru belajar soal teknologi apapun. Karena sama-sama pelajar, kita harus saling menyemangati. Jangan takut "salah belajar"; jangan terlalu kaku terhadap "roadmap"; jangan malu bila di-bully karena tidak tahu akan sesuatu, karena tidak ada yang dapat menjadi rockstar dalam semalam.</p>
<p><em>Dipublikasi ulang berdasarkan tulisan asli:</em></p>
<iframe src="https://www.facebook.com/plugins/post.php?href=https%3A%2F%2Fweb.facebook.com%2Fmhdnauvalazhar%2Fposts%2Fpfbid08pyUqbq8fPrygeHMsJp8PyyV6meYY7PfnnmaEkKz9tEg3yraJX3hXTHHSX3NxYW7l&amp;show_text=true" width="100%" height="292" style="border:none;overflow:hidden"></iframe>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ketidakadilan Kampus]]></title><description><![CDATA[Gw pernah kuliah di kampus swasta, dan biayanya yang tergolong murah. Semenjak masih di SMK, sama sekali nggak kepikiran buat gw untuk mendaftarkan diri ke suatu kampus. Yang ada dipikiran gw saat itu, gimana caranya gw bisa ngasilin duit dari kemamp...]]></description><link>https://esai.nauv.al/ketidakadilan-kampus</link><guid isPermaLink="true">https://esai.nauv.al/ketidakadilan-kampus</guid><dc:creator><![CDATA[Nauval]]></dc:creator><pubDate>Wed, 27 Feb 2019 17:00:00 GMT</pubDate><content:encoded><![CDATA[<p>Gw pernah kuliah di kampus swasta, dan biayanya yang tergolong murah. Semenjak masih di SMK, sama sekali nggak kepikiran buat gw untuk mendaftarkan diri ke suatu kampus. Yang ada dipikiran gw saat itu, gimana caranya gw bisa ngasilin duit dari kemampuan koding gw.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1642507057148/-EfMC9k63.png" alt="image.png" /></p>
<p>Kemampuan koding gw saat sekolah nggak jelek-jelek amat. Waktu gw masih kelas 10, gw udah bikin web mirip kayak Twitter dengan gabungan desain yang terinspirasi dari Facebook juga. Di situ logika pemrograman gw udah lumayan terasah. Itu cuma satu dari sekian banyak web app yang gw bikin.</p>
<p>Selain itu gw juga bikin game untuk anak-anak, terus gw jual melalui abang gw sendiri yang saat itu kerja di salah satu toko buku. Gw masih inget nama game-nya Mengenal Huruf, di-burn ke CD, dimasukkin ke hard cover, dibungkus plastik, terus dijual. Lupa gw dapet berapa duit dari situ.</p>
<p>Walaupun nggak jago-jago amat, tapi kalo dibanding temen gw yang lain, gw kayak "anak emas" kalo untuk urusan programming. Gw juga inget, waktu kelas 11, gw dapet tawaran buat kerja di salah satu yayasan dengan syarat gw pindah sekolah, cuma gw tolak dengan alasan yang gw lupa.</p>
<p>Oke itu mukadimah aja...</p>
<p>Dari cerita pendek di atas, itu yang bikin gw merasa percaya diri dengan kemampuan gw saat itu, gw ngerasa udah cocok di programming dan tinggal nyari pengalaman yang nyata aja. Berangkat dari pikiran itu, gw sama sekali nggak mau kuliah ketika umur gw masih –seinget gw– 16 tahun.</p>
<p>Tapi gw punya kakak laki-laki yang kuliah dan merasa gw harus kuliah juga. Gw inget banget apa yang dia bilang waktu dulu, "kuliah dulu aja, dicoba dulu". Akhirnya gw coba buat daftar kuliah dan keterusan sampe 4 tahun.</p>
<p>Iya, gw DO di semester akhir, temen-temen gw ngerjain skripsi, gw malah DO. Ya kalo dipikir2 pasti lo juga mikir, "goblok banget si Nauval, bukannya lulus dulu biar dapet ijazah". Nanti gw jelasin alasan gw DO di tulisan yang lain.</p>
<p>Selama gw kuliah, gw ketemu banyak temen. Dari banyak temen di sini, hampir semuanya ini udah pada kerja. Karena gw ambil kuliah kelas karyawan, jadi udah wajar banget. Umurnya juga udah di atas gw semua, gw paling muda waktu itu.</p>
<p>Kita berbagi pengalaman hidup, temen2 gw yang lebih senior banyak cerita soal kenapa dia kuliah padahal umurnya udah lebih dewasa dari gw bahkan 2x lipat dari gw. Di satu sisi gw liatnya keren, karena gw mikir belum tentu gw di umur mereka bakal ngelakuin hal yang sama. Di sisi lain, gw miris dengan ketidakadilan yang temen-temen gw dapetin semasa kuliah.</p>
<p>Kebanyakan temen-temen gw ini yang kuliah, mereka bener-bener pengen ngerubah hidup, pengen punya skill, pengen cari kerja yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka menyisihkan uang sekian persen dari gajinya untuk bayar kampus. Dan mereka juga mengorbankan waktu dan menyisihkan sisa-sisa tenaga mereka untuk memberi asupan pada otak di malam hari.</p>
<p>Ketika waktu ujian tiba, mereka harus melunasi sisa-sisa tagihan yang belum dibayar, dan harus mendapatkan kartu ujian supaya bisa masuk ke ruang ujian. Ada tenaga di sana yang dikeluarkan mahasiswa untuk membayar kampus.</p>
<p>Dengan semua pengorbanan yang dikeluarkan temen-temen mahasiswa ini, ada ekspektasi dari mereka bahwa kampus akan memberikan pelayanan yang sangat maksimal.</p>
<p>Sialnya, espektasi itu menjadi nyata, jadi benar-benar ekspektasi aja.</p>
<p>Gw dan temen-temen kuliah di jurusan sistem informasi. Soal logika diajarin, soal programming diajarin, soal analisis diajarin, soal bisnis diajarin, soal akutansi diajarin, soal software engineering diajarin juga. Cita-cita kampus, mahasiswa yang lulus dari jurusan sistem informasi ini kalo nggak jadi system analyst, ya jadi software engineer. Tapi faktanya, mayoritas dari temen-temen gw ini nggak jadi keduanya. Dan mereka tetap dengan pekerjaan sebelumnya, ya mungkin ada yang udah pindah kerjanya, tapi dengan kemahiran yang serupa. Artinya kan tidak berubah.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Karena kurikulum yang digunakan kampus tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan industri. Soal software engineering misalnya, di industri udah ngomongin JavaScript, Node JS, Laravel, React, Docker, Kubernetes, Rust, dan segala macemnya. Yang diajarin kampus itu sebaliknya, Delphi, VB, Java mobile tapi Symbian, PHP native, Pascal, dan semacamnya.</p>
<p>Coba lo pikir, sangat paradoks, 'kan?</p>
<p>Itu masih soal software engineering, belum mata kuliah yang nggak relevan lainnya. Kayak akutansi atau bisnis, ngapain belajar soal akutansi sama bisnis di jurusan sistem informasi? Relevansinya apa? Supaya mahasiswa kelak punya cara untuk jual software yang mereka bikin?</p>
<p>Gimana mau jual software, mereka aja belom paham cara bikin software-nya itu gimana. Sumpah ini konyol banget.</p>
<p>Gw juga nggak terlalu fokus ke permasalahan mata kuliah yang tidak relevan tersebut. Gw lebih khawatir ke persoalan software engineering-nya. Karena itu jadi syarat mahasiswa biar bisa lulus dan bisa ngerubah hidupnya.</p>
<p>Hal-hal kayak tadi bisa terjadi karena ada suatu pekerjaan yang diserahkan pada orang yang tidak kompeten. Bisa jadi orang tersebut hebat dalam satu bidang, belum tentu dia hebat dalam mengurusi soal-soal perkampusan. Masalah kurikulum, masalah mahasiswa, atau masalah-masalah kampus lainnya.</p>
<p>Orang administrasi kampus cenderung bertanya kurikulum pada dosen yang terkait mata kuliah tersebut. Sialnya lagi, beberapa dosen juga tidak kompeten. Ya sudah itu jadi rumus yang sempurna untuk menghasilkan mahasiwa tidak berkualitas.</p>
<p>Satu waktu ada sesi di mana mahasiswa boleh ngasih kritik di atas secarik kertas. Dan itu kesempatan gw buat nulis apa yang jadi keluh kesah gw dan temen-temen gw. Sejujurnya, temen-temen gw ini nggak ngerti apa yang jadi masalah. Karena mereka memang bener-bener awam soal software engineering, mereka belum paham pasarnya kayak gimana, trendnya kayak gimana. Dan karena gw udah ada pengalaman, jadi gw yang kritik soal itu.</p>
<p>Dari semua yang jadi keluh kesah gw, cuma ada satu jawaban yang sangat lucu, "nyari dosen itu susah". Ya kalo lo nggak bisa nyari dosen yang kompeten, ya jangan bikin kampus dong!</p>
<p>Gw nggak tau di kampus lain itu sistemnya gimana. Tapi di waktu gw kuliah, dosen itu kebanyakan bisa jadi dosen karena atas dasar pengabdian. Karena dosen tersebut pernah berkuliah di situ, atau karena udah lama ngajar di situ. Jadi bukan karena dia kompeten atau tidak.</p>
<div class="embed-wrapper"><div class="embed-loading"><div class="loadingRow"></div><div class="loadingRow"></div></div><a class="embed-card" href="https://facebook.com/mhdnauvalazhar/posts/968611783332059">https://facebook.com/mhdnauvalazhar/posts/968611783332059</a></div>
<p>Gw harap kedepannya kampus-kampus semacam ini segera sadar. Karena menurut gw mereka belum sepenuhnya memenuhi hak-hak mahasiswa. Secara biologis mungkin terpenuhi, tapi secara epistēmē belum terpenuhi.</p>
<p>Ketika mahasiwa didesak untuk bayaran tepat waktu, seharusnya di sisi lain kampus memberikan tenaga pengajar yang kompeten. Itu baru adil. Tulisan ini gw dedikasikan untuk teman-teman gw semasa kuliah dan untuk kamu yang mengalami nasib serupa.</p>
]]></content:encoded></item></channel></rss>