Biarkan Telanjang
Kita hidup dalam ketidakjelasan moral. Kadangkala mengaku dari timur, selebihnya mengaku dari barat. Namun, satu yang sangat jelas, kebanyakan dari mereka memang senang menindas. Serepih apapun kesempatan, mereka akan menindas, mungkin di kantor, di kampus, atau bahkan pada anak SMP yang masih puber.
Perempuan yang sering menjadi korban. Mereka tak mampu mengadu pada negara, sebab akan dianggap kurang baik. Mereka tak mampu mengadu pada Tuhan, sebab kesaksiannya dianggap hanya separuh. Mereka tak mampu mengadu pada tetangga, sebab pakaiannya dianggap tak cukup sopan.
Kata “sopan” selalu menjadi kata yang paling berengsek yang sering diungkapkan untuk mengatur tubuh perempuan. Dalam satu sisi, menghina laki-laki seolah laki-laki tak memiliki cukup akal untuk berhenti. Pada sisi yang lain, seolah perempuan adalah submanusia yang tak mampu mengatur tubuhnya sendiri.
Pakaian sopan adalah bahasa teknis, mengaturnya berarti harus menentukan standarnya. Selama ini kita hidup dengan moral kompas yang rusak, seolah sopan adalah mutlak, padahal hanya bangunan imajinasi saja. Sopan santun seringkali menjadi negasi baru untuk mengatasi akal yang tersumbat.
Tak jarang perumpamaan “binatang liar” yang absurd dikemukakan. Katanya, “singa mana yang tidak nafsu diberi daging?”. Perumpamaan ini begitu bangsat, sebab seolah laki-laki hidup berdasarkan insting. Pun merupakan perumpaan yang tolol, sebab bila ada hewan liar mengancam warga, tangkap hewan tersebut, bukan malah mengurung warga. Bahkan untuk berpikir salah saja mereka salah.
Pun sering terjadi, alih-alih menangkap pelaku, fokusnya dialihkan pada pakaian korban. Seolah para berengsek ini memiliki semacam batas ambang apakah suatu peristiwa layak dianggap pelecehan atau tidak berdasarkan pakaiannya. Mereka seringkali beramai-ramai membuat “pleidoi” untuk memenuhi berahi religiositasnya. Seolah yang dilakukan oleh pelaku semacam azab atas pakaian sang korban.
Mereka hanya menyembah tafsir, namun berlagak menjadi Tuhan. Seolah, diasumsikan, semua orang menyembah tafsir yang sama. Seolah kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Seolah murkanya adalah murka Tuhan. Kebenaran tak pernah mutlak, memaksakan kebenaran sendiri pada orang lain itu tidak benar.
Bila saja Firdaus masih hidup hari ini, entah berapa banyak laki-laki yang hendak ditikamnya. Tak terbayang juga berapa banyak para laki-laki yang hendak meneriakkan “sjw” pada tubuhnya, tentu, dengan nada yang peyoratif. Bahkan mereka tak sudi mendengar kisahnya, sebab selayaknya perempuan memang harus patuh.
